Usaha Setelah Kena PHK: Jual Keahlian Dulu, Jangan Habiskan Pesangon
Terbit: Waktu baca: 7 menit
Kena PHK dan pesangon sudah cair? Sebelum dipakai buka usaha, ada urutan yang lebih aman: jual keahlian yang sudah kamu punya, lalu biarkan pembeli menentukan langkah berikutnya.

Jual keahlian dulu, buka usaha belakangan. Untuk kebanyakan orang, usaha setelah kena PHK yang paling aman adalah jasa dari keahlian yang sudah dimiliki, karena bisa diuji ke pembeli sungguhan dalam dua sampai empat minggu tanpa menyentuh pesangon. Usaha dagang yang dibiayai pesangon baru ketahuan laku atau tidak setelah uangnya terpakai.
Kalau kamu sudah punya usaha dengan pembeli yang jelas, misalnya meneruskan katering keluarga yang pesanannya sudah jalan, artikel ini tidak akan menambah banyak. Ini untuk kamu yang baru menerima surat PHK, sedang menatap angka pesangon di rekening, dan mulai dapat tawaran kemitraan dari teman lama.
Kenapa usaha setelah kena PHK sering menghabiskan pesangon
Minggu pertama setelah PHK biasanya ramai. Ada yang menawarkan paket franchise minuman, ada yang mengajak jadi reseller, ada yang yakin warung sembako di depan rumah pasti jalan. Semua datang dengan niat baik, dan semuanya meminta hal yang sama: uang di depan.
Kamu tidak sendirian di posisi ini. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja melaporkan PHK sepanjang Januari sampai Agustus 2026, terbanyak dari Jawa Barat, dalam data yang dirilis 25 September 2026. Angka itu hanya menghitung pekerja yang mengajukan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan, jadi yang tidak terdaftar tidak ikut terhitung. Artinya, bulan-bulan ini ada puluhan ribu orang yang memegang pesangon dan sedang mencari tempat menaruhnya. Penjual paket usaha juga membaca berita yang sama.
Kamu tergoda membuka usaha dagang karena itu yang kelihatan seperti usaha sungguhan: ada tempat, ada barang, ada spanduk. Wajar, karena itu yang selama ini kita lihat di sekitar rumah. Masalahnya, usaha seperti itu membayar semua biayanya di depan dan baru memberi jawaban di belakang.
Misalnya Rina, tujuh tahun jadi staf admin keuangan di Bekasi dengan gaji Rp6 juta, menerima pesangon dan hak lainnya total Rp40 juta. Seorang kenalan menawarkan booth minuman dengan paket Rp25 juta. Sewa tempatnya Rp2 juta sebulan, listrik dan satu penjaga Rp2 juta lagi, jadi biaya tetapnya Rp4 juta sebulan. Kalau keuntungan per gelas setelah bahan Rp5.000, Rina harus menjual 800 gelas sebulan, sekitar 27 gelas setiap hari, hanya supaya tidak rugi. Itu belum mengembalikan Rp25 juta paketnya. Dari bulan pertama sampai ketiga, booth itu rata-rata menjual 15 gelas sehari: keuntungan Rp2,25 juta sebulan, sementara biaya tetapnya Rp4 juta. Setelah tiga bulan, sisa pesangonnya tinggal di bawah Rp10 juta, dan itu belum dipotong biaya hidup.
Jawaban yang Rina dapat memang berguna: lokasi itu tidak cocok. Harganya Rp30 juta dan tiga bulan.
Pesangon untuk modal usaha, atau pesangon untuk napas?
Pesangon bukan modal usaha, pesangon adalah waktu yang dibeli untuk mencari tahu apa yang orang mau bayar darimu.
Hitung pesangon dalam bulan, bukan dalam rupiah. Kalau pengeluaran rumah tangga Rina Rp7 juta sebulan, Rp40 juta itu setara hampir enam bulan hidup. Setiap Rp10 juta yang dipakai untuk modal memotong napasnya hampir satu setengah bulan. Dengan cara hitung ini, paket Rp25 juta tadi bukan investasi. Paket itu adalah tiga setengah bulan hidup yang ditukar dengan satu tebakan.
Menurut kami, ini kesalahan hitung yang paling sering terjadi: pesangon diperlakukan seperti bonus, padahal fungsinya pengganti gaji.
Hitung JKP BPJS Ketenagakerjaan sebelum menghitung modal
Ada satu sumber napas yang sering terlewat. Kalau kamu peserta program JKP BPJS Ketenagakerjaan dengan masa iuran minimal 12 bulan dalam 24 bulan terakhir, kamu berhak atas uang tunai Jaminan Kehilangan Pekerjaan. Sejak PP 6/2025, besarnya 60% dari upah terakhir yang dilaporkan, paling lama enam bulan, dengan upah dasar dibatasi Rp5 juta. Jadi paling banyak Rp3 juta sebulan, atau Rp18 juta untuk enam bulan. Klaimnya diajukan paling lambat enam bulan setelah tanggal PHK, jadi jangan ditunda sampai pesangon menipis. Syarat lengkapnya bisa dicek langsung di kantor cabang atau aplikasi BPJS Ketenagakerjaan.
Untuk Rina, JKP menambah Rp18 juta. Napasnya naik dari hampir enam bulan jadi sekitar delapan bulan.
Delapan bulan cukup untuk menguji banyak hal. Asal yang diuji murah.
Jual jasa dari keahlian: modalnya sudah kamu bawa pulang
Masuk akal. Tapi keahlian apa yang bisa dijual kalau pekerjaanmu selama ini "cuma" admin?
Justru di situ banyak orang salah menilai dirinya sendiri. Pekerjaan back office terasa membosankan dari dalam karena kamu mengulangnya setiap hari. Dari luar, pekerjaan yang sama adalah hal yang tidak sempat dan tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemilik usaha kecil: merapikan pembukuan, menghitung gaji dan BPJS karyawan, menyaring pelamar, menyusun laporan bulanan yang bisa dibaca bank. Keahlian itu tidak ikut hilang bersama kartu akses kantormu.
Contohnya Dimas, lima tahun di bagian rekrutmen sebuah perusahaan di Jakarta. Setelah kena PHK, dia sadar ada puluhan ribu orang di posisinya yang sekarang sedang melamar kerja, dan kebanyakan belum pernah berlatih wawancara dengan orang yang biasa duduk di kursi pewawancara. Dia membuat satu layanan: review CV dan latihan wawancara, 60 menit, Rp200.000. Dia mengumumkannya di dua grup WhatsApp alumni dan di LinkedIn. Dalam tiga minggu masuk enam sesi, atau Rp1,2 juta.
Itu belum pengganti gaji. Tapi modal yang keluar nol rupiah, dan dalam tiga minggu Dimas tahu tiga hal yang baru Rina ketahui setelah tiga bulan: ada yang mau bayar, di harga berapa, dan lewat jalur mana mereka datang. Dari enam klien itu, dua minta paket tiga sesi, jadi harga berikutnya dia naikkan ke Rp250.000.
Jasa yang laku memberi uang. Jasa yang tidak laku memberi jawaban. Stok yang tidak laku hanya memberi gudang.
Kapan freelance setelah PHK justru bukan jawaban yang tepat
Sampai sini, jual jasa kedengaran seperti jawaban untuk semua orang. Tidak.
Ada tiga kondisi di mana saran di atas harus dibalik. Pertama, kalau napasmu kurang dari tiga bulan dan ada keluarga yang bergantung pada gaji bulanan, prioritasnya melamar kerja lagi. Jasa tetap bisa jalan, tapi sebagai sampingan di akhir pekan, bukan rencana utama. Penghasilan freelance bulan pertama hampir selalu naik turun, dan cicilan tidak mau tahu.
Kedua, kalau keahlianmu butuh alat mahal. Fotografer yang harus membeli kamera dan lensa senilai Rp20 juta sedang membuat keputusan modal yang sama dengan Rina. Cara yang lebih aman adalah menyewa alat untuk tiga sampai lima pekerjaan pertama, lalu membeli setelah pesanannya terbukti ada.
Ketiga, kalau kamu memang sudah punya pembeli untuk usaha dagang. Bekas rekan kantor yang sudah memesan katering setiap Jumat adalah pasar yang nyata, bukan tebakan. Di kasus itu, modal untuk dapur lebih masuk akal daripada memaksakan diri jadi konsultan.
Jadi pertanyaan penentunya sederhana. Dalam 30 hari ke depan, bisakah kamu menyebut tiga orang yang mungkin membayar keahlianmu? Kalau bisa, mulai dari jasa. Kalau belum bisa, pakai 30 hari itu untuk melamar kerja sambil mencari tiga nama tadi, dan jangan keluarkan satu rupiah pun untuk modal.
Ide usaha modal kecil setelah PHK: minggu pertama
Oke, tapi kalau calon klien bilang "nanti dulu ya" lalu tidak pernah kembali?
Biasanya itu bukan soal harga. Itu karena tawarannya kabur. "Bisa bantu urusan HR" tidak bisa dibeli. "Review CV 60 menit, Rp200.000, Sabtu jam 9 sampai jam 3" bisa. Jadi pekerjaan minggu pertama adalah membuat satu layanan yang bisa dibeli tanpa tanya-jawab.
Tulis nama layanannya, durasinya, harganya, dan untuk siapa. Kirim ke 20 orang yang pernah melihat hasil kerjamu, bukan ke semua kontak. Lalu siapkan satu tempat untuk melihat layanan itu dan memilih jadwal sendiri, supaya waktumu tidak habis menjawab "kosongnya kapan?" satu per satu lewat DM. Banyak orang memakai Linktree atau Google Forms untuk ini. Bisa, tapi keduanya tidak tahu jam mana yang sudah terisi. Halaman profil dan booking online seperti Serpis menampilkan layanan, harga, dan jam kosong di satu link, dan versi gratisnya sudah cukup untuk mulai.
Setelah delapan minggu, hitung. Berapa sesi, berapa rupiah, berapa jam. Kalau jasamu sudah menutup lebih dari setengah pengeluaran bulanan, kamu punya usaha. Kalau belum, kamu punya data, dan data jauh lebih murah daripada booth yang tutup.
Kalau keahlianmu sudah ketemu dan kamu ingin melihat seperti apa layanan yang siap dibeli, pelajari lebih lanjut cara penyedia jasa lain menata layanan dan jadwalnya di Serpis.
Pertanyaan umum
JKP adalah Jaminan Kehilangan Pekerjaan dari BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja yang terkena PHK. Sejak PP 6/2025, uang tunainya 60% dari upah terakhir selama paling lama enam bulan, dengan upah dasar maksimal Rp5 juta, jadi paling banyak Rp3 juta sebulan.
Minimal enam bulan pengeluaran rumah tangga, termasuk JKP kalau kamu berhak. Kalau pesangon ditambah JKP belum menutup enam bulan, jangan dipakai untuk modal sama sekali dan mulai dari jasa yang tidak butuh modal.
Tulis satu layanan dengan durasi dan harga yang jelas, lalu tawarkan ke 20 orang yang pernah melihat hasil kerjamu. Uji selama delapan minggu sebelum mengeluarkan uang untuk alat atau promosi berbayar.
Mulai dari keahlian yang sudah kamu pakai di kantor, lalu tawarkan ke usaha kecil di sekitarmu yang butuh pekerjaan itu tapi belum sanggup menggaji karyawan tetap. Di Jawa Barat, provinsi dengan laporan PHK terbanyak sepanjang 2026, banyak juga pencari kerja yang butuh review CV dan latihan wawancara.
Saat napas keuanganmu kurang dari tiga bulan dan ada keluarga yang bergantung pada gaji bulanan. Di kondisi itu, melamar kerja jadi rencana utama dan jasa berjalan sebagai sampingan di akhir pekan.
Franchise meminta modal di depan dan baru menunjukkan laku atau tidak setelah beberapa bulan. Jasa freelance hampir tanpa modal dan memberi jawaban dalam dua sampai empat minggu, walaupun penghasilannya di awal naik turun.
Pembukuan bulanan usaha kecil, hitung gaji dan BPJS karyawan, penyaringan pelamar, review CV dan latihan wawancara, serta kelas spreadsheet bagi staf admin. Semuanya bisa dimulai dengan laptop yang sudah kamu punya.



